Oknum Pejabat Kena Hukum Adat

SUDAH lama tak terdengar warga daerah ini terkena hukum adat. Apakah pertanda tak ada pelanggaran adat terjadi? Belum tentu juga. Namun peristiwa yang terjadi di Payakumbuh jelas mengejutkan. Ternyata hukum adat (masih) berlaku disana. Meski hanya sekadar ‘bertamu’ ke rumah seorang wanita tengah malamsaat sang suamitak di rumah, seorang lelaki yang merupakan oknum pejabat di Limapuluh Kotadengan berat hati menerima hukum adat.

KORAN PADANG terbitan Senin (24/5) mengupas dengan dalam kasus langka di Minangkabaukarena perlakuan ‘buruak cando’ yang dinilai memalukan kampung dan nagari. Tentu kita pantas memberi apresiasi pada ninik mamak Sawahpadang Aua Kuning Payakumbuh yang berhasil memvonis warga yang melanggar ketentuan hukum adat. Pantas pula rasanya hukum adat makin digencarkan demi ketenteaman masyarakat berkorong dan berkampung.

Terlaksananya hukum adat di tengah masyarakat pertanda peran ninik mamak tak luntur kena hujan maupun panas. Sangat janggal rasanya kalau ada pula kalangan tertentu yang tak setuju hukum adat diterapkan.

Kekompakan semua ninik mamak di tanah bertuah ini jelas sangat diharapkan. Padahal, sudah lama tak terdengar pelanggar adat dijatuhi hukuman. Boleh jadi tradisi turun-temurun ini mulai mengendur. Namun di Payakumbuh dan sekitarnya, terbukti hukum adat itu masih kuat. Ninik mamak setempat tetap komit memberlakukan hukum adat untuk kenyamanan anakkemenakan bersuku dan bernagari.

Kita bangga dengan keberadaan penghulu yang konsekuen menjaga marwah anak kemenakan dari beragam perbuatan tercela. Dari peristiwa di Sawahpadang Aurkuning ini mari makin digalakkan pelaksanaan hukum adat di Minangkabau. Kita bangkitkan budaya adat berciri Minangkabau dalam arti sebenarnya.

Sebenarnya peran ninik mamak sangat besar. Bukan menjatuhkan hukum adat saja,lebih dari ituninik mamak juga punya tanggungjawab besar untuk kesejahteraan anak dan kemenakannya. Sebutlah turun ke sawah serentak juga peran ninik mamak sangat menentukan. Begitu juga dengan beragam pembinaan terhadap anak dan kemenakan.

Kita percaya, kalau ninik mamak semakin maksimal perannya, niscaya negeri ini semakin elok. Untuk itusangat pantas kita terus menggerakkan beragam kebaikan di negeri ini. Mereka yang acuh tidak acuh dengan adat istiadat Minang, tunggu saja hukum adatmenyelesaikan. Dan hukum adat pasti serasi dengan hukum positif yang berlaku di negeri ini. *

Next Post

BUKA KUNJUNGAN OBJEK WISATA DENGAN PROKES, Pemko Pariaman Raup PAD Rp250 Juta Lebih

Sen Mei 24 , 2021
PARIAMAN, KP – Kota Pariaman sukses menggelar pariwisata dengan menerapkan […]