27 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

Solar Langka, Antrean di SPBU ‘Mengular’

SIMPANG EMPAT, KP – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) kerap terjadi dalam seminggu belakangan. Diduga hal itu akibat berkurangnya pasokan dari Pertaminan. Akibatnya, antrean panjang yang mengular terjadi di sejumlah SPBU hingga mengakibatkan kemacetan.

Seperti yang terpantau KORAN PADANG di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nomor 14.263.542, Jalan Lintas Batang Toman, Nagari Lingkuang Aua, Kecamatan Pasaman. Sudah tiga hari ini antrean di SPBU itu mengular sepanjang satu kilometer. Terlihat puluhan mobil truk dan bus menunggu antrean untuk mengisi solar. Sementara petugas juga terlihat mengisi jerigen sehingga menjadi salah satu penyebab makin panjangnya antrean tersebut.

Pengawas SPBU 14.263.542, Suardi ketika dikonfirmasi KORAN PADANG mengatakan antrean itu terjadi akibat berkurangnya pasokan BBM solar dari Pertamina di mana dalam 15 hari ini pasokan berkurang sebanyak 16 ton.

“Dalam 15 hari ini pasokan solar berkurang satu tangki, yaitu sebanyak 16 ton,” katanya, Jumat (18/6).

Terkait masyarakat yang membeli solar dengan jerigen, Suardi menjelaskan solar itu diperuntukkan untuk operasional helerpadi.“Satu jerigen untuk satu helerkarena banyak SPBU yang tidak ada pasokan solarnya.Kalau dua jerigen itu berarti untuk dua heler,” terangnya.

Ia menambahkan, pembelian jerigen juga dilayani untuk nelayan yang mencari ikan di laut sesuai surat resmi dari Dinas Kelautan dan Perikanan terkait permintaan BBM Jenis solar ini untuk para nelayan.

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasaman Barat, Arial Efendi mengakui pihaknya memberikan rekomendasi kepada nelayan untuk permintaan solar kepada SPBU. Namun,lanjutnya, hal itu harus melalui pengkajian dan perhitungan terlebih dahulu.

“Setiap nelayan yang mengajukan kepada Dinas Kelautan dan Perikanan kita lakukan perhitungan terlebih dahulu, jadi tidak serta merta diberirekomendasi. Termasuk jenis mesin yang digunakan. Nelayan yang berhak menerima BBM subsidi hanya nelayan dengan mesin dibawah 30 Gross Ton (GT),” jelasnya.

Senada, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pasbar, Darnil juga mengatakan bahwa pihaknya beberapa kali mencukupi kebutuhan nelayandengan membeli BBM solar dari SPBU karena tidak terpenuhi oleh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).

Sementara, Kepala Unit (Kanit) Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (Turjawali) Polres Pasbar, Ipda Heddy Permana Putra mengimbau kepada para pengendara yang melintas untuk berhati-hati ketika melintasi kemacetan yang terpaksa diberlakukan buka tutup.

“Kami mengimbau kepada para pengendara untuk mengikuti antrian dengan tertib dan berhati-hati ketika melintas. Kepada pengelola SPBU kami sarankan untuk melakukan penyaluran BBM Solar ini pada malam hari agar kemacetan tidak terjadi sehingga masyarakat tidak terganggu dalam melakukan aktifitasnya,” imbuhnya. (rom)