27 Juli 2021

HARIAN UMUM KORAN PADANG

Berani Menyampaikan, Santun Mengkritisi

HASIL SURVEI SMRC , Mayoritas Warga Tolak Jabatan Presiden Tiga Periode

JAKARTA, KP – Hasil survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terbaru menunjukkan mayoritas warga Indonesia tidak setuju masa jabatan presiden tiga periode dan menolak Jokowi maju kembali dalam Pilpres 2024.

“Sekitar 52,9 persen menyatakan tidak setuju Jokowi kembali maju pada Pilpres 2024, sementara yang setuju 40,2 persen,” kata Peneliti sekaligus Direktur Komunikasi SMRC, Ade Armando dalam peluncuran hasil survei nasional SMRC bertajuk ‘Sikap Publik Nasional terhadap Amendemen Presidensialisme dan DPD’, Minggu (20/6).

Survei SMRC juga menunjukkan mayoritas warga (74 persen) menghendaki agar masa jabatan presiden dua kali (periode) dipertahankan. Sedangkan yang ingin masa jabatan presiden diubah hanya 13 persen. Sementara 13 persen responden dalam survei itu tidak menjawab.

Menurut Ade, temuan ini menunjukkan narasi yang diusung kelompok-kelompok tertentu agar Presiden Jokowi bisa kembali bertarung dalam Pilpres 2024 dengan mengubah ketetapan UUD 1945 yang membatasi masa jabatan presidentidak didukung oleh mayoritas warga Indonesia.

“Memang dukungan terhadap gagasan untuk mencalonkan Jokowi kembali sebagai presiden nampak cukup tinggi, yakni sekitar 40 persen.Namun, tetap persentase itu lebih rendah secara signifikan dibandingkan mereka yang menganggap Jokowi cukup menjabat dua kali yang mencapai hampir 53 persen,” kata Ade.

Apalagi, lanjutnya, 74 persen warga menyatakan tidak perlu ada perubahan dalam masa jabatan presiden dua periode. Dia menyebutterdapat perbedaan pandangan antar kelompok latar belakang pendidikan, penghasilan, dan agama berbeda dalam hal dukungan dan penolakan terhadap gagasan tersebut.Dilihat dari latar belakang pendidikan, terdapat 75 persen warga dengan tingkat pendidikan Perguruan Tinggi yang menolak pencalonan kembali Jokowi sebagai capres 2024, sementara hanya 45 persen warga berpendidikan SD yang juga menolak gagasan tersebut.

Dilihat dari tingkat penghasilan, terdapat 62 persen warga dengan penghasilan di atas Rp2 juta/bulan yang menolak gagasan pencalonan kembali Jokowi.Sementara hanya 43 persen warga berpenghasilan di bawah Rp 1 juta/bulan yang juga menolak gagasan tersebut.

Survei nasional SMRC tersebut dilakukan pada 21-28 Mei 2021. Survei dilakukan melalui wawancara tatap muka ini melibatkan 1.072 responden yang dipilih melalui metode penarikan sampel random bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error penelitian sekitar 3,05 persen.

PENDUKUNG JOKOWI RAMAI-RAMAI TOLAK GAGASAN PRESIDEN TIGA PERIODE

Gagasan mengusung Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden tiga periode juga mendapat penolakan dari kelompok pendukung Jokowi pada Pilpres 2019 lalu. Setelah Ketua Umum Relawan Jokowi Mania (Joman), Immanuel Ebenezer, kini giliran mantan Kepala Sekretariat Direktorat Relawan TKN Jokowi (2019), Jay Octa yang bersuara. Dia menyebut mereka yang berniat memajukan Jokowi sebagi capres pada Pilpres 2024 sebagai ‘penumpang gelap yang cari muka’.

Jay menuturkan dalam Amendemen Undang-Undang Dasar (UUD) telah disepakati bahwa jabatan presiden hanya maksimal dua periode dengan harapan dapat melahirkan pemimpin-pemimin baru dengan ide dan gagasan baru sesuai kebutuhan jaman.

“Jokowi juga telah menegaskan tidak mau (tiga periode), meski nanti undang-undangnya diamendemen lagi,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (20/6).

Polemik soal Jokowi presiden tiga periode mengeras terutama setelah sekelompok orang yang tergabung dalam Komunitas Jokowi-Prabowo (Jokpro) 2024 meresmikan sekretariat nasional (Seknas) di Jalan Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Sabtu kemarin. Komunitas Jokpro 2024 akan menggalang kekuatan untuk memajukan pasangan Jokowi Widodo dan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2024. Jokpro 2024 dipimpin Baron Danaddono (Ketua Umum) dan Timothy Ivan Triyono sebagai Sekjen. Sementara Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari duduk sebagai Penasihat.

Jay Okta mengatakan Jokowi adalah sosok yang santun dan tidak haus kekuasaan. Karenanya, menurut dia, mantan Gubernur Jakarta dan Walikota Solo itu cukup memimpin Indonesia dua periode. “Dengan begitu Jokowi tidak ingin menghambat hadirnya peminpin baru, pemimpin muda,” tandasnya.

Dia juga mengingatkan para Relawan Jokowi sebaiknya melupakan wacana Jokowi presiden tiga periode karena saat ini ada persoalan genting yang mendesak segera dituntaskan yakni pandemi covid-19. (snc/voi)