PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN MELALUI PENGEMBANGAN DIVERSIFIKASI PANGAN

Ir. ZULHASMIFungsional Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) Madya Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat.

Pangan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang paling hakiki, maka pemenuhannya menjadi bagian dari hak asasi setiap individu. Mengacu pada definisi yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata dan terjangkau. Berbagai tantangan dan perubahan lingkungan strategis baik secara global maupun nasional telah mempengaruhi pelaksanaan ketahanan pangan. Kondisi tersebut jika tidak diantisipasi sedini mungkin akan berimplikasi terhadap ketahanan pangan dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) yang telah mendunia serta dicanangkan oleh PBB ini dalam upaya menurunkan jumlah penduduk miskin dan rawan pangan hingga tahun 2030.

Diversifikasi pangan merupakan salah satu strategi penyediaan pangan di masa pandemi. dan menjadi pilihan, orang bisa kenyang tidak hanya dengan beras. Gerakan diversifikasi pangan merupakan upaya untuk meningkatkan keanekaragaman pangan lokal serta program yang menjadi proiritas dan tetap didorong pengembangannya sekaligus menurunkan konsumsi beras.

Kerangka Pikir

Perkembangan tatanan sosial, ekonomi dan politik pada era demokratisasi dan globalisasi ekonomi saat ini, menghendaki perubahan serta pendekatan dalam kebijakan dan pola pembangunan ketahanan pangan. Selanjutnya perubahan pola konsumsi pangan masyarakat dari pola pangan yang didominasi beras menjadi pola pangan beragam yang berbasis pada keanekaragaman sumber daya pangan, kelembagaan dan budaya lokal. Pada suatu sisi secara tidak langsung, status gizi dipengaruhi pula oleh pola asuh, ketersediaan pangan, faktor sosial ekonomi, budaya dan politik. Paling tidak ada tiga alasan penting yang melandasi kesadaran semua komponen bangsa atas pentingnya pembangunan pangan. Pertama, akses atas pangan dan gizi yang beragam, seimbang, aman, dan cukup bagi setiap penduduk merupakan salah satu pemenuhan hak asasi manusia. Kedua,konsumsi pangan dan gizi yang cukup merupakan basis bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas. Dan ketiga,ketahanan pangan merupakan basis bagi ketahanan ekonomi, bahkan bagi ketahanan nasional suatu negara berdaulat.

Pengembangan Gizi Seimbang

Upaya dan berbagai strategi penggalakan penganekaragaman pangan yang tertuang dalam kebijakan diversifikasi pangan bukanlah hal baru dalam program/kegiatan dilaksanakan Pemerintah. Adapun perkembangan regulasi dan kebijakan diversifikasi pangan terbaru adalah dengan terbitnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Program diversifikasi pangan tersebut tujuan utamanya lebih ditekankan sebagai usaha melakukan penganekaragaman konsumsi pangan lokal dan untuk menurunkan tingkat konsumsi beras. Beragam pangan lokal sumber karbohidrat non beras ini yang sehat dan mengenyangkan, merupakan target program diversifikasi. Pemanfaatan pangan lokal secara masif dinilai mampu memberikan kontribusi positif untuk memperkuat kedaulatan pangan daerah. Selanjutnya dalam roadmap 2020 – 2024 dari Badan Ketahanan Pangan – Kementan, terdapat diversifikasi pada 6 (enam) komoditas pangan lokal sumber karbohidrat non beras yang potensial mengganti nasi, yaitu  singkong, talas, sagu, jagung, pisang, dan kentang. Kita harapkan dengan gerakan diversifikasi pangan ini masyarakat bergairah untuk mengkonsumsi pangan lokal sumber karbohidrat non beras.

Pengembangan Diversifikasi Pangan

Diversifikasi pangan dimaksudkan untuk memperoleh keragaman zat gizi sekaligus melepas ketergantungan masyarakat atas satu jenis pangan pokok tertentu yaitu beras. Ketergantungan yang tinggi dapat memicu ketidakstabilan jika pasokan terganggu dan sebaliknya jika masyarakat menyukai pangan alternative maka ketidakstabilan akan dapat dijaga.

Diversifikasi pangan bertujuan untuk: (1) mewujudkan pola penganekaragaman pangan yang memperhatikan nilai gizi dan daya beli masyarakat, (2) meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dan keamanan pangan lewat ketersediaan pangan dari segi jumlah dan kualitas gizinya, (3) mengurangi ketergantungan pada beras sehingga tidak dapat dipolitisir lagi, (4) menambah devisa negara dengan mengembangkan produk pertanian non beras yang punya keunggulan komparatif dan (5) menjaga kelangsungan dan kelestarian alam/lingkungan dengan mengembalikan pada ekosistemnya.

Memang tidak mudah dalam memantapkan ketahanan pangan di tengah ketergantungan  ketersediaan pangan pada satu komoditas beras saja di tengah pertambahan penduduk dan tingginya konsumsi beras masyarakat tersebut. Pada sisi lain kekayaan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati memiliki potensi yang perlu dikelola dengan baik agar memberi manfaat bagi ketahanan pangan secara berkelanjutan. Kekayaan pangan lokal yang dimiliki masing-masing daerah tersebut menjadi potensi yang luar biasa bila dapat dikembangkan dengan berbagai produk pangan olahan yang diindustrialisasi dalam skala masif. Jadi dalam konteks pembangunan pangan yang berkelanjutan, diversifikasi pangan dirasakan penting dan menjadi bagian dalam peningkatan ketahanan pangan. Potensi bahan dalam upaya keanekaragaman pangan lokal yang dimiliki seyogianya dalam pengembangannya harus dari hulu sampai ke hilir harus memperhatikan aspek pemberdayaan masyarakat. Diversifikasi pangan dalam mewujudkan pemantapan ketahanan pangan harus berbasis pada pemberdayaan masyarakat agar mereka mengenali potensi dirinya sehingga mampu secara mandiri menemukenali dan mengatasi masalah yang dihadapinya. Makanya, upaya diversifikasi pangan harus dilakukan secara terintegrasi melalui aspek permintaan dan suplai. Selanjutnya pengembangan diversifikasi secara tidak langsung akan meningkatkan konsumsi pangan non beras dengan tetap memperhatikan ketentuan zat gizi yang cukup dan berimbang.

Upaya yang harus dilakukan

Dalam upaya pengembangan diversifikasi pangan ada beberapa aspek yang segera dan menjadi prioritas untuk dilakukan, yang meliputi : a) Diversifikasi pangan dalam mewujudkan pemantapan ketahanan pangan harus berbasis pada pemberdayaan masyarakat agar mereka mengenali potensi dirinya sehingga mampu secara mandiri menemukenali dan mengatasi masalah yang dihadapinya, b) Melalui diversifikasi pangan berbasis pemberdayaan masyarakat pada akhirnya masyarakat dapat memproduksi, mendistribusikan, dan mengkonsumsi pangan untuk kemudian berorientasi pasar guna meningkatkan pendapatan rumah tangga, c) Mendesigne kemasan produk dadih secara representative sehingga lebih menarik, praktis dan memenuhi persyaratan, d) Meningkatkan sosialisasi dan pembinaan dalam penerapan mutu dan jaminan keamanan produk sehingga akan meningkatkan mutu dan keamanan produk serta nilai jual dari produk pangan tersebut, e) Perlunya regulasi dalam upaya peningkatan diversifikasi pangan berbasis bahan serta animo/minat untuk mengkonsumsi pangan local baik berupa surat edaran atau himbauan dari Gubernur yang mengharuskan pada rapat atau pertemuan pada instansi pemerintah atau agenda yang melibatkan masyarakat banyak.

Daftar Bacaan

  1. Darmawati, Intan. 1998, Diversifikasi Pangan Non Beras. Wacana No. 13. Edisi September –Oktober.
  2. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43/Permentan/OT.140/10/2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP).

Next Post

Dandim 0312/Padang Tinjau Kegiatan Serbuan Vaksinasi Covid-19 di Stasiun Simpang Haru

Rab Jul 28 , 2021
PADANG, KP – TNI (Kodim 0312/Padang) beserta instansi terkait selalu siap membantu memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama masyarakat kota Padang untuk membantu pemerintah pusat dalam bentuk kegiatan serbuan vaksinasi Kodam I/BB guna mencegah penyebaran virus covid-19.Hal tersebut disampaikan Komandan Kodim (Dandim) 0312/Padang, Kolonel Inf M. Ghoffar Ngismangil saat meninjau kegiatan […]