Keamanan Pangan Hal Mendasar Menuju Masyarakat Sehat

Oleh: Lisa Asdriane, SP., MP
PMHP Madya Dinas Pengan Provinsi Sumatera Barat

KEAMANAN pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan tiga (3) cemaran, yaitu cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi. Pangan yang dihasilkan (melalui pengolahan) harus sesuai dengan cara pembuatan pangan olahan yang baik untuk menjamin mutu dan keamanannya. Selain itu pangan harus layak dikonsumsi yaitu tidak busuk, tidak menjijikkan, bermutu baik serta bebas dari cemaran biologis, kimia dan fisik.
A. Cemaran Biologi: cemaran biologi yang terdapat di pangan dapat berupa bakteri, kapang, kamir, parasit, virus dan ganggang. Pertumbuhan mikroba ini bisa menyebabkan pangan menjadi busuk sehingga tidak layak untuk dimakan dan menyebabkan keracunan pada manusia yang berujung kematian.
B. Cemaran Kimia: bahan kimia yang tidak diperbolehkan dalam pangan. Cemaran kimia masuk kedalam pangan secara sengaja atau tidak sengaja dapat menimbulkan bahaya. Misal: cemaran kimia alami (yang berasal dari bahan pangan itu sendiri seperti: racun jamur, singkong beracun, racun ikan buntal dan racun jengkol), cemaran kimia lingkungan seperti: limbah industri, asap kendaraan bermotor, sisa pestisida pada buah, sayur deterjen serta cat pada peralatan masak.
C. Cemaran Fisik: adalah benda-benda yang tidak boleh ada dalm pangan seperti rambut, kuku, staples, serangga mati, batu atau kerikil, pecahan gelas atau kaca, logam dan lain-lain. Benda-benda ini jika termakan dapat menyebabkan luka, seperti gigi patah, melukai kerongkongan dan perut. Benda -benda tersebut berbahaya karena dapat melukai dan atau menutup jalan nafas dan pencernaan. Cara pencegahan cemaran fisik adalah dengan memperhatikan secara seksama benda-benda yang akan dikonsumsi.
Keamanan Pangan merupakan salah satu isu sentral yang berkembang di masyarakat, baik karena masih banyaknya kasus-kasus keracunan bahan pangan maupun semakin meningkatnya kesadaran dan tuntutan masyarakat terhadap makanan yang sehat dan halal. Menyikapi hal tersebut pemerintah melalui Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 di mana salah satu pasalnya mengatur tentang keamanan pangan. Keamanan pangan diselenggarakan untuk menjaga pangan tetap aman, higenis, bermutu dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan dan budaya masyarakat. Keamanan pangan juga dimaksudkan untuk mencegah cemaran biologis dan kimia yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Hal yang perlu diketahui masyarakat selaku konsumen adalah bahwa setiap bahan pangan baik segar maupun olahan, pada dasarnya memungkinkan mengandung resiko bahan kimia yang dilarang dan sangat membahayakan kesehatan manusia. Penggunaan pestisida seperti insektisida, fungisida, bakterisida, nematisida dan rodentisida yang berlebihan berdampak terhadap kesehatan.
Insektisida merupakan jenis pestisida yang sering digunakan untuk memberantas serangga seperti belalang, kepik, wereng, ulat, nyamuk, kutu busuk, rayap dan semut, sedangkan fungisida digunakan untuk mencegah pertumbuhan jamur. Bakterisida digunakan untuk memberantas virus dan nematisida untuk memberantas cacing sedangkan rodentisida adalah jenis pestisida untuk hewan pengerat seperti tikus.
Kondisi tersebut semakin diperparah dengan adanya ulah sebagian oknum yang menjual bahan pangan yang tidak layak dikonsumsi, seperti sayuran dan buah-buahan yang mengandung residu pestisida di atas ambang batas. Residu pestisida dapat berpengaruh terhadap kesehatan apabila dikonsumsi dalam jangka waktu yang panjang, seperti menyebabkan kanker, cacat kelahiran dan mengganggu sistem saraf. Anak-anak yang terpapar pestisida beresiko memiliki stamina dan tingkat kecerdasan yang kurang baik selain itu dapat juga berakibat perubahan orientasi seksual.
Bhoraks, formalin dan rhodamin B adalah bahan yang dilarang karena dapat membahayakan kesehatan, bahkan dapat menyebabkan kematian apabila dikonsumsi dalam dosis tinggi. Ironisnya bahan-bahan berbahaya tersebut juga banyak ditemukan pada jajanan anak sekolah. Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2008-2010 menunjukkan 40%-44% produk jajanan anak sekolah tidak memenuhi syarat mutu dan keamanan pangan, karena bahan pangan tersebut mengandung bahan berbahaya berupa pewarna tekstil, rhodamin-B.
Selain itu, buruknya higene dan sanitasi ikut berkontribusi dalam membperburuk keamanan pangan jajan anak sekolah. Apabila anak-anak mengkonsumsi makanan yang tidak memenuhi standar keamanan pangan, bisa dipastikan akan terkena penyakit lever atau hati yang dapat menyebabkan hepatitis pada usia produktif. Misalnya mengkonsumsi makanan yang mengandung boraks atau rhodamin-B, menyebabkan gangguan fungsi hati, bahkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan kanker hati.
Bahan pangan dapat menjadi tidak aman karena adanya atau masuknya bahan -bahan berbahaya yang dapat berupa agen biologi (terutama mikroba pathogen), agen kimia atau benda lain (fisik) yang dapat meracuni atau membahayakan kesehatan manusia yang mengkonsumsinya. Pestisida yang masuk kedalam tubuh dapat melalui dua (2) cara yaitu secara langsung melalui mulut, kulit serta pernafasan dan secara tidak langsung yaitu melalui bahan pangan serta makanan dan minuman yang dikonsumsi. Keracunan pangan tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian ekonomi maupun sosial yang tidak sedikit tetapi juga mengakibatkan banyaknya korban menderita sakit bahkan meninggal dunia.
Perlu disadari bahwa semua kejadian dan akibat buruk dari pangan yang tidak aman, baik terhadap kesehatan maupun terhadap kondisi sosial masyarakat, menjadi peringatan bagi pemerintah dan pelaku usaha (petani, eksportir maupun importir pengolah bahan pangan), serta konsumen tentang pentingnya penanganan keamanan pangan secara terus menerus. Untuk dapat mewujudkan pangan asal pertanian yang aman dan berdaya saing tinggi, diperlukan program yang berkelanjutan. Misalnya melalui publikasi di media massa, sosialisasi ke berbagai pemangku kepentingan dan advokasi terhadap para pengambil kebijakan baik di eksekutif maupun legislatif. Melalui berbagai upaya tersebut, diharapkan selain akan memberikan pemahaman kepada konsumen untuk dapat memilih dan memilah produk pangan berkualitas, juga meminimalkan pihak-pihak tertentu untuk mengeruk keuntungan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bila pangan yang dikonsumsi tidak aman maka akan menyebabkan masyarakat tidak sehat. Selain itu pangan yang aman dan bergizi menjadi hak masyarakat. Oleh karenanya perlu mendapat perhatian besar. Sehat dan bahagianya individu dimulai dari asupan pangannya. Pangan yang terjamin keamanan dan kualitas gizinya dapat menjamin jiwa individu yang memakannya menjadi sehat dan bahagia. *

Next Post

SITUASI PANDEMI COVID-19, Peringatan HUT RI Ke-76 di Agam Dilaksanakan dengan Penerapan Prokes

Sen Agu 2 , 2021
LUBUKBASUNG, KP – Mengingat masih dalam situasi pandemi Covid-19, maka upacara atau peringatan HUT Ke-76 Kemerdekaan RI Tahun 2021 di Kabupaten Agam dilaksanakan dengan penerapkan Protokol Kesehatan Pencegahan Covid-19. Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-76 diselenggarakan dengan cara mengibarkan bendera merah putih selama satu bulan penuh. Saat detik-detik proklamasi, masyarakat diimbau […]