Ranah Minang dengan Beragam Problemanya

BOLEH jadi tiap hari muncul beragam problema yang berpotensi merusak budaya ABS-SBK (Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah).

Terjadinya beragam tingkah polah tak baik tersebut bisa diketahui melalui media massa. Jangan pula ada anggapan media disalahkan karena semua informasi yang tampildi media sudah sesuai dengan kode etik jurnalistik. Maka, berita yang sifatnya sosial kontrol berupa problema pantas ditindaklanjutiagar yang ‘buruak cando’ tersebut tidak lagi berkembang karena merusak budaya dan ketentraman masyarakat.

Seperti diberitakan KORAN PADANG terbitan Kamis (21/10) di halaman 1 ada berita tentang anak-anak maling, kapal terdampar dijarah, dan paket kurir online dicuri. Bahkan di Pariaman ada pula penganten berjogetdi hadapan tamu yang menghadiri pesta. Untung,pemuka Desa Taluak bergerak cepat dan melarang penganten berjoget.

Beragam pemberitaan tersebut di atas, terutama berkaitan dengan kriminal yang pelakunya kebanyakan anak muda jelas sangat memprihatinkan. Boleh jadi hubungan orangtua dengan anak tidak lagi begitu mesra. Dialog saling pengertian antara orangtua tak lagi terjalin berkulindan. Makan bersama sekeluarga boleh jadi tak lagi populer.

Jangan salahkan pihak lainkalau anak nakal, berbuat jahat, dan berujung masuk penjara. Yang pasti beragam perilaku ‘buruak cando’ semakin berjadi-jadi di Sumbar maupun daerah lain. Polisi siang-malam mengamankan negeri ini namun anak yang bergajul kian marak karena lepas dari binaan orangtuanya. Begitu juga budaya malusemakin rapuh di negeri ini. Penganten baru tak lagi malu-malu bergoyang di hadapan niniki mamak, karib dan kerabat yang menghadiri pesta.

Beragam pelanggaran adat, budaya, dan perangai cenderung sepertinya terus berkembang di daerah ini. Memang banyak yang mengaku miris, tapi hanya sekadar muncul dalam pembicaraan di warung kopi. Disinilah perlunya ‘kaum adat’, beserta cendekiawan dan alim ulama tampil dengan kesepakatanbulat melahirkan pedoman baku bagi keselamatan bersama anak-kemenakan di Ranah Minang bertuah ini. Dengan cara itu Insya Allah negeri ini akan semakin baik.

Namun kalau sistem seperti sekarang juga dipertahankan, dengan arti kata hukum adat dan budaya terlalu longgar, diperkirakan negeri ini semakin memprihatinkan di masa datang dengan beragam problemanya. Kita khawatir adat serta budaya Minang tak jadi ukuran lagi dan tinggal kerabangnya saja. Wallahualam bisshawab. *

Next Post

STQH NASIONAL XXVI, Sumbar Hanya Loloskan Satu Wakil di Final, Pandemi Jadi Dalih

Kam Okt 21 , 2021
SOFIFI, KP – Babak penyisihan Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis […]