TERBANG MAKIN MAHAL, Ikatan Pilot Indonesia Minta Wajib Test PCR Dicabut

JAKARTA, KP – Wajib tes PCR bagi penumpang pesawat yang melakukan perjalanan udara kembali mendapatpenolakan. Kali ini giliran Ikatan Pilot Indonesia yang meminta agat syarat penerbangan yang harus melampirkan test PCR ditinjau kembali.

Kewajiban tes PCR membuat syarat perjalanan udara menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya menggerus jumlah penumpang pesawat dan berkurangnya trafik penerbangan. Berkurangnya jumlah penerbangan berimbas pada pengurangan pengoperasian pesawat di beberapa maskapai. Hal itu menimbulkan penundaan, pengurangan, pemotongan gaji, bahkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Untuk itu, Ketua Ikatan Pilot IndonesiaCaptain Iwan Setyawan menilai rapid test cukup untuk menjadi syarat penerbangan. Apalagi WHO, IATA, hingga ICAO menyatakan bahwa tes antigen memiliki akurasi yang baik, lebih murah, dan cepat memberikan hasilsehingga direkomendasikan untuk digunakan sebagai alat tes.

“Penelitian juga menunjukkan bahwa rasio penularan di dalam pesawat udara sangat rendahserta didukung dengan penerapan protokol kesehatan ketat di bandara. Semua pekerja maupun penumpang transportasi udara juga telah divaksin, maka transportasi udara sebenarnya sangat aman dan mendukung pencegahan penyebaran covid-19,” ujar Capt. Iwan dalam konferensi pers, Selasa (26/10).

Iwan menyampaikan pesawat komersial saat ini juga sudah dilengkapi HEPA sebagai filter terhadap virussehingga transportasi udara semestinya mendapatprioritas untuk diutamakan pemulihannya.

“Kami mengharapkan adanya kebijakan yang lebih meringankan persyaratan penumpang pesawat udaradengan menjadikan tes antigen sebagai syarat untuk melakukan perjalanan sebagaimana moda Transportasi Lainnya,” pungkasnya.

Sebelumnya, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga meminta kebijakan terkait wajib tes PCR untuk penumpang pesawat sebaiknya dibatalkan atau direvisi. Sebab, menurut YLKI, ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) tes PCR di lapangan banyak diakali oleh penyedia sehingga harganya naik berkali lipat.

Tak hanya itu, YLKI juga meminta pemerintah terbuka mengenai komponen biaya tes PCR.

“Pemerintah belum transparan terkait harga tes PCR tersebut. Berapa sesungguhnya struktur biaya PCR dan berapa persen margin profit yang diperoleh pihak provider? Ini masih tanda tanya besar,” kata Ketua YLKI Tulus Abadi, Selasa (26/10).

Menurutnya, saat ini banyak sekali provider yang menetapkan harga PCR di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Mereka beralasan ‘PCR Ekspress’, dengan tarif bervariasi, mulai dari Rp650 ribu, Rp750 ribu, Rp900 ribu, hingga Rp1,5 juta.

Terkait wacana semua moda transportasi, tak hanya pesawat, akan dikenakan wajib PCR, YLKI menilai hal tersebut dilakukan jika harga PCR bisa diturunkan lagi secara lebih signifikan. YLKI mengusulkan tatif PCR berkurang menjadi Rp 100 ribu.

“Sebab jika tarifnya masih Rp 300 ribu, mana mungkin penumpang bus suruh membayar PCR yang tarifnya lebih mahal daripada tarif busitu sendiri?” ujar Tulus.

Ia juga menyarankan tidak semua moda transportasi harus dikenakan PCR atau antigenkarena akan menyulitkan dalam pengawasannya.

“Kembalikan tes PCR untuk keperluan dan ranah medis, karena sekarang sudah banyak warga yamg divaksinasi,”tukasnya. (cnn)

Next Post

KASUS DUGAAN KORUPSI DANA DESA, Walinagari Sungai Batuang Ditahan

Sel Okt 26 , 2021
MUARO SIJUNJUNG, KP – Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Sijunjung menetapkan […]