Imbauan Gubernur Pantas Ditindaklanjuti Segera

GUBERNUR Sumbar Mahyeldi mengungkapkan keprihatinannya atas kasus amoral pemerkosaan bergilir terhadap dua bocah berusia 5 dan 7 tahun yang terjadi di kawasan Cendana Mata Air, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang. Gubernur pun mengimbau agar pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat meningkatkan pengawasan terhadap ancaman krisis moral di daerah ini. Demikian diberitakan KORAN PADANG terbitan Jumat (19/11).

Imbauan gubernur ini pantas ditindaklanjuti sesegera mungkin. Khusus di tingkat akar rumput, Rukun Tetangga(RT), ninik mamak, pemuda, dan cerdik pandai diharapkan segera menindaklanjuti imbauan gubernur itu dengan membuat ‘paga kampung’ atau sejenisnya sebagai pencegahan dini terjadinya kasus amoral di wilayah masing-masing.

Maraknya terjadinya beragam peristiwa durjana akhir-akhir ini boleh jadi sawah tidak lagi berpematang. Ninik mamak dan ‘rang mudo’ seakan tidak disegani lagi. Parewa kampunghilang entah kemana. ‘Hen barehen’ sudah makin membudaya. Saling ingat-mengingatkan seakan sudah punah dari keseharian.

Meski kita tetap mengagungkan ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandainamun mungkin kita sudah lupa bahwa ‘ijuak tidak ada lagi saga’-nya. Boleh jadi itulah ibaratnya kita kini berada dalam era modern dengan segala konsekuensinya. Tak bisa dipungkiri, krisis moralsungguh sedang terjadi.

Bagaimanapun juga, tidak perlu krisis moral itu ditangisi. Mari kita hadapi dengan kepala tegak. Mari kita nyatakan perang dengan ‘krisis moral’ yang kian memprihatinkan. Salah satu cara menangkalnya adalah memunculkan program ‘siaga bencana krisis moral’ dengan memfungsikan wadah kerjasama ninik mamak, pemuda, cerdik pandai,dan tokoh masyarakat untuk mengawasi kampung dari ancaman krisis moral.

Hal demikian sebenarnya di sebagian perkampungan di Kota Padang sudah ada. Seperti di pesukuan Sikumbang dan Chaniago sehiliran Batang Belanti, antara dua kelurahan Flamboyan Baru dan Lolong Belanti. Sudah sejak lama ninik mamak Chaniago dan Sikumbang sepakat melaksanakan ‘hukum adat’. bagi pasangan muda-mudi yang tertangkap basah melakukan perbuatan asusila harus membayar sanksi 60 zak semen. Dibayar malam itu jugasetelah pelaku dibawa dari lokasi tempat mereka ditangkap ke kantor keamanan atau pos pemuda.

Hukum adat di kampung Chaniago dan Sikumbang ini sudah berlaku sejak zaman dulu dan sampai kini tetap langgeng jadi tradisi turun-temurun. RT dan RW di lingkungan kampung sehiliran Batang Belanti ini tetap saling menjaga dan memelihara sistem hukum adat meski Padang sudah jadi kota modern. Tentu saja, pendatang harus menyesuaikan diri.

Begitulah, demi pengawasan krisis moral, pantas kiranya hukum adat yang menjadi kesepakatan bersama masyarakat setempat jadi pilihan untuk mencegah terjadinya krisis moral maupun untuk mencegah terjadinya aksi main hakim sendiri terhadap pelaku. Kalaupun ada unsur pidana, silahkan berlanjut ke ranah hukum.

Mari kita buktikan bahwa Kota Padang khususnya dan Sumbar terbebas dari krisis moral. Bersama kita bisa. Insya Allah. *

Next Post

Padang Kembali Rebut Juara Umum

Jum Nov 19 , 2021
PADANGPANJANG, KP – Kota Padang berhasil merebut kembali gelar juara […]

You May Like