CABJARI SULIKI LAKUKAN KEADILAN RESTORATIF Proses Hukum Pencuri Handpone Dihentikan

LIMAPULUH KOTA, KP – Cabang Kejaksaan Negeri (Cabjari) Payakumbuh di Suliki, Kabupaten Limapuluh Kotamenghentikan penuntutan perkara seorang Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) berinisial MY (17 tahun) yang melakukan tindak pidana pencurian handphone berdasarkan prinsip keadilan restoratif.

Kacabjari Payakumbuh di Suliki, Ridwan mengatakanSurat Keputusan Penghentian Penuntutan (SKP2) telah keluar sehingga tuntutan untuk pelaku secara resmi dihentikan.

“Dengan keluarnya SKP2 maka perkara dinyatakan selesai demi hukum dan memiliki kekuatan hukum yang sama dengan putusan dari pengadilan,” ujarnya didampingi Kasubsi Pidum dan Pidsus Halan dan Kaur Pembinaan M. Bahsan Albana, Jumat (14/1).

Ia menjelaskan penghentian tuntutan itu didasari Peraturan Kejaksaan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2020 tentang penghentian penuntutan tentang keadilan restoratif. Ridwan mengatakan, sebelum keluarnya SKP2 pihak Cabjari Payakumbuh di Suliki melakukan berbagai upaya seperti perdamaian antara kedua belah pihak.

“Upaya perdamaian dilakukan 10 Januari 2022 dan saat itu tercapai kata damai antara keluarga pelaku dengan keluarga korban. Perdamaian tanpa syarat,”terangnya.

Selanjutnya Cabjari Payakumbuh di Suliki juga melakukan pengajuan secara berjenjang seperti ke Kejaksaan Tinggi Sumatra Barat pada Rabu (12/1) dan Kejati menyetujuinya.

“Setelahnya kita mengajukan ke Kejaksaan Agung Muda Tindak Pidana Umum pada Kamis (13/1) dan juga disetujui,” ujar Ridwan.

Menurutnya, untuk mendapatkan keadilan restoratif terdapat beberapa syarat atau beberapa hal yang dipenuhi, salah satunya belum pernah tersandung kasus hukum.

“Selanjutnya kedua pihak yakni pelaku dan korban sepakat damai, kerugian tidak mencapai Rp2,5 juta, dan juga harus mendapatrespon positif oleh masyarakat,” ujarnya.

Untuk pelaku MY, lanjutnya, telah memenuhi syarat untuk mendapatkeadilan restoratif, termasuk nilai kerugian korban sebesar Rp2,4 juta.

Diketahui, pelaku MY  diamankan pada Desember 2021 setelah melakukan aksi pencurian di Jorong Tiakar Guguak VIII Koto, Kecamatan Guguak. Kasusnya dilimpahkan ke Kejaksaanpada 5 Januari 2022.

“Penghentian tuntutan ini merupakan yang pertama untuk kami di Cabjari Payakumbuh di Suliki. Terimakasih kepada semua pihak dan khususnya bimbingan dari Kejati Sumbar,” ulas Ridwan.

Dia berharap agar MY dapat menjadi pribadi lebih baik dan tidak mengulangi lagi kesalahannya di kemudian hari.

Sementara,Walijorong Balai Mansiro mewakili pihak keluarga pelaku, Bujang Aya mengatakan, setelah dihentikan tuntutan, MY akan menjadi tanggungjawabnya bersama keluarga dan masyarakat untuk menjadikannya pribadi lebih baik.

“Kami bersama-sama akan membimbing anak kemenakan kami ini agar nantinya tidak mengulangi hal seperti ini lagi dan dapat menjadi pribadi lebih baik,” ungkapnya. (dst)

Next Post

18 Tahun Pasbar Makin Berkibar

Jum Jan 14 , 2022
PENAMPILAN Bupati Pasaman Barat Hamsuardi bersama istri berbatik motif daerah […]