OTT di Kampung Pondok Padang, Polisi Sita Ribuan Botol Miras IIegal

PADANG, KP – Sebanyak 2.165 botol mibuman keras tanpa izin atau ilegal disita polisi di sebuah restoran di Kampung Pondok, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Jumat dinihari (14/1).

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto mengatakan, ribuan miras yang disita di Kampung Pondok itu terdiri dari berbagai merekdan disita karena pengelola restoran tak mengantongi izin.

“Miras yang kita sita itu semuanya golongan B dengan kadar alkoholantara 5-20 persen. Nilai materinya jika diuangkansekitar Rp277 juta,” ujar Satake saat jumpa pers di Mapolda Sumbar, Jumat (14/1).

Dijelaskan Satake, terungkapnya penjualan miras tanpa izin di Kampung Pondok tersebutberdasarkan hasil penyelidikan Polda Sumbar sejak beberapa hari belakangan. Setelah cukup bukti, polisi langsung menggelar Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Jumat (14/1) sekitar pukul 00.30 WIB.

Satake menambahkan, di restoran tempat OTT itupolisi mengamankan 742 botol miras. Lalu, 1.423 botol lagi diamankan di kediaman pemilik restoran.

“Pemiliknya berinisial AT. Saat diinterogasi, dia mengakui telah menjual miras itu sejak tiga bulan yang laludan telah maraup keuntungan yang cukup banyak,” ungkapnya dilansir langgam.id.

Saat ini, kanjut Satake, pemilik serta barang bukti ribuan botol miras itu diamankan di Mapolda Sumbarguna pemeriksaan dan pengembangan kasus lebih lanjut.

Ditegaskan Satake, polisi tidak akan memberi ampun bagi siapa saja yang mengedarkan miras secara ilegal, hukuman berat akan menanti bagi siapa saja yang nekat.

“Minuman keras ini dapat menyebabkan orang hilang kesadaran. Akibatnya, banyak terjadi kasus pembunuhan, lakalantas, penganiayaan dan lainnya,” kata Satake.

 

PEMBERANTASAN PEKAT DAN MAKSIAT JADI ATENSI KAPOLDA SUMBAR

 

Satake mengatakan pemberantasan penyakit masyarakat (pekat) dan maksiat di Sumbar dan Kota Padang khususnya menjadi atensi Kapolda Sumbar, Irjen Pol Teddy Minahasa.

Satake menjelaskan, menurut Kapolda, di samping dilarang agama, miras juga bisa menjadi faktor pendorong seseorang menjadi berkurang kesadarannya.

“Sehingga memiliki kemungkinan bagi seseorang untuk melakukan apa saja yang melanggar hukum dan menjadi salah satu pemicu gangguan kamtibmas,” ungkapnya.

Menurut Kapolda, seperti dijelaskan Satake, banyak peristiwa yang terjadi yang berawal dari kondisi pelaku yang sedang mabuk, seperti pembunuhan, kecelakaan lalulintas, penganiayaan, anarkis, dan sebagainya.

Pada prinsipnya, sebut Satake, Kapolda Sumbar ingin Ranah Minang kembali kepada marwahnya yakni ‘adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah’. (lgm/pkt)

Next Post

DUA BULAN POSISI PANGKOSTRAD KOSONG Panglima TNI Bantah Tarik-Menarik Kepentingan

Jum Jan 14 , 2022
JAKARTA, KP – Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa mengatakantidak […]